PENJAMASAN PUSAKA “SUNAN KALIJAGA”: Kearifan Lokal Antara Spiritual, Mistis, dan Realitas

VN-24, Demak – Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, bumi perdikan Kadilangu, Demak, menggelar upacara adat sakral “Penjamasan Pusaka Sunan Kalijaga”. Berbeda dengan tradisi menjamasi keris yang umumnya dilakukan bulan Suro/Muharam, penjamasan dua pusaka milik Kanjeng Sunan Kalijaga hanya digelar setahun sekali saat Idul Adha.

Jika di Tanah Suci umat Muslim menjalankan rukun Islam, di Kadilangu para ahli waris melakukan pensucian dua pusaka: _Kanjeng Kyai Kotang Ontokusumo_ dan _Kanjeng Kyai Keris Carubuk_. Berbeda dengan penjamasan keris pada umumnya yang dicuci air bunga/air kelapa, digosok jeruk nipis lalu diwarangi, penjamasan pusaka Sunan Kalijaga diawali tirakat puasa dan meditasi penuh konsentrasi agar prosesi berjalan lancar.

Kedua pusaka disimpan dalam peti kuno di atas pusara Makam Sunan Kalijaga. Peti dibuka dengan kunci tua yang menurut juru kunci, tidak semudah membuka gembok biasa. Ada “ujian” tersendiri setiap tahunnya.

Prosesi penjamasan sendiri, menurut dawuh para pinisepuh, diyakini memunculkan tanda-tanda alam. Hasilnya diartikan sebagai sinyal kondisi negara setahun ke depan. Namun hasil penjamasan ini hanya untuk konsumsi internal keluarga dan tim yang bertugas, bukan untuk publikasi luas.

“Semua kita kembalikan kepada Sang Maha Pencipta. Manusia hanya wajib berdoa agar alam bersahabat dan negara tetap kondusif, aman serta sejahtera,” ujar salah satu pengurus.

Beberapa tahun terakhir muncul dualisme pelaksana penjamasan. Pada 2026, salah satu pihak membuktikan sah dengan menghadirkan unsur aparat: Kasat Intel Polres Demak, Danramil Kota Demak, dan perwakilan Pemda Demak. Kehadiran aparat ini disebut untuk menguak keaslian pihak mana yang berhak menjalankan tradisi.

Pengurus menegaskan, upacara ini harus dijaga kemurnian dan kelestariannya tanpa rekayasa pihak yang hanya mengejar kepentingan pribadi. “Sunan Kalijaga sosok penting dalam sejarah Nusantara. Tanpa beliau, sejarah penyebaran Islam di Jawa akan berbeda. Bung Karno saja berwasiat _JAS MERAH: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah_. Beliau pun disebut masih keturunan Panembahan Notoprojo, garis Sunan Kalijaga,” kata juru bicara.,

Masyarakat berharap tradisi ini tetap dijaga sebagai budaya lokal hingga skala nasional. Jangan sampai dieksploitasi pihak yang hanya mencari keuntungan tahunan tanpa memperhatikan adab, etika, dan moral luhur warisan Sunan Kalijaga.

Pewarta : (Sulthon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *