Aminuzal Amin: Dari Anak Guru di Pagaruyung hingga Raja Bisnis Minang

VN-24, Sumbar – Bayangkan seorang pemuda Minang yang putus kuliah karena tak mampu bayar biaya, malah jadi pengusaha yang menguasai perdagangan minyak nasional, punya bank, dan ikut membangun ekonomi Sumatera Barat. Itulah Haji Aminuzal Amin Datuak Rajo Batuah – legenda pengusaha sukses yang lahir dari keterbatasan, tapi berakhir dengan legacy abadi.

Aminuzal Amin lahir pada 23 April 1938 di Gudam, Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatera Barat. Anak sulung seorang guru sederhana, ia tumbuh dengan latar keluarga yang menjunjung pendidikan dan adat. Masa kecilnya dihabiskan di Batusangkar, menempuh SD dan SMP di sana, lalu melanjutkan SMA di Bukittinggi. Semangat merantau khas Minang membawanya ke Jakarta untuk kuliah Hukum di Universitas Indonesia, namun keterbatasan ekonomi memaksanya berhenti di tingkat dua.

Tanpa dukungan finansial yang kuat, Aminuzal tak menyerah. Saat kuliah ia sudah berjualan pupuk dan arloji demi bertahan hidup. Ia bahkan pernah menjadi sopir oplet rute Salemba–Kramat sambil menyembunyikan identitasnya. Setelah masa PRRI berakhir, ia kembali ke Jakarta dan belajar dunia bisnis dari tokoh seperti Hasyim Ning. Ia memulai dari jual beli mobil bekas, lalu merambah impor pakaian dari Eropa dan jam tangan dari Swiss.

Ketekunan itu membuahkan hasil. Ia kemudian dipercaya sebagai sales manager di sejumlah perusahaan otomotif dan perdagangan. Pada era 1970-an, ia masuk ke bisnis perminyakan sebagai Executive Vice President PT Permindo Oil Trading, perusahaan joint venture dengan Pertamina yang berkembang pesat. Ia juga memperluas usaha ke ekspor minyak sawit melalui PT Mindo Citra Upaya serta memiliki saham di sektor perbankan seperti Bank Nasional dan Bank Nusa.

Tak hanya fokus pada bisnis, Aminuzal memiliki visi sosial yang kuat. Pada tahun 1992, ia bersama tokoh Minang seperti Abdul Latief, Fahmi Idris, dan Nasroel Chas mendirikan PT Nagari Development Corporation (NDC). Perusahaan ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Minangkabau, termasuk melalui dukungan terhadap Bank Pembangunan Daerah Sumbar (kini Bank Nagari) dan berbagai pembangunan daerah.

Kontribusinya juga menyentuh dunia olahraga, khususnya sepak bola di Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap kemajuan generasi muda melalui olahraga, termasuk membantu pengembangan kegiatan dan infrastruktur sepak bola. Peran ini memperlihatkan komitmennya dalam membangun masyarakat secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi ekonomi.

Sebagai tokoh adat, ia dianugerahi gelar Datuak Rajo Batuah oleh kaum suku Gudam Balaijanggo serta gelar kehormatan Dato’ Setia Negeri Sembilan dari Malaysia. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk menyumbang pembangunan Masjid Nurul Amin di Pagaruyung serta memprakarsai rekonstruksi Istano Silinduang Bulan pasca kebakaran. Di bidang politik, ia pernah menjadi anggota MPR-RI selama dua periode mewakili Golongan Karya dari Sumatera Barat.

Hingga wafat pada 10 September 2021 di Jakarta, Aminuzal Amin dikenal sebagai pengusaha dermawan yang rendah hati. Ia membuktikan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh modal awal, melainkan oleh ketekunan, keberanian mengambil peluang, dan semangat merantau yang membawa manfaat bagi kampung halaman.

Kisah Aminuzal Amin adalah bukti nyata bahwa siapa pun bisa bangkit dari bawah dengan tekad dan kerja keras. Kamu sedang berjuang di bisnis atau karier? Apa pelajaran terbesar yang kamu ambil dari perjalanan beliau? Bagikan ke rekanmu yang butuh motivasi hari ini!

Pewarta : Irwan

Sumber :
Wikipedia Indonesia; Tirto.id (Profil Tokoh); Harian Singgalang (2021)

#AminuzalAmin #PengusahaMinang #SuksesDariBawah #InspirasiBisnisMinang #LegacyMinangkabau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *