VN-24, Jakarta – Ekonom Konstitusi Defiyan Cori menyoroti langkah Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman yang belakangan gencar memamerkan isi gudang beras Bulog ke berbagai kalangan.
Setelah mengajak aktivis mahasiswa, Mentan Amran membawa pengamat politik meninjau gudang beras pada Kamis (23/4).
Dalam kesempatan itu, Amran menganalogikan gudang yang penuh sebagai bukti tercapainya swasembada beras.
Namun, Defiyan Cori menilai klaim tersebut terlalu dini dan tidak logis.
“Ini logika yang patut dipertanyakan,” ujar Defiyan Cori dalam keterangannya, Sabtu (25/4).
Dia juga menyoroti pernyataan Mentan Amran dengan percaya diri menyatakan persediaan beras nasional melimpah hingga lebih dari 5 juta ton.
Tidak hanya itu, Amran juga membandingkan kinerjanya saat ini dengan capaian swasembada beras di era Orde Baru (Orba).
Defiyan menilai perbandingan tersebut sangat ahistoris dan tidak apple to apple.
“Pernyataan Mentan Amran itu ahistoris. Orba di bawah Presiden Soeharto butuh waktu 15 tahun untuk mencapai swasembada. Saat itu, penduduk kita hanya 147,5 juta jiwa berdasarkan Sensus 1980,” jelasnya.
Berbeda jauh dengan klaim Amran yang menyebut swasembada beras tercapai hanya dalam kurun waktu sekitar satu tahun.
Padahal, beban kebutuhan pangan saat ini jauh lebih besar dengan jumlah penduduk mencapai 281,6 juta jiwa per Juni 2024.
Defiyan pun mempertanyakan asal-usul beras yang memenuhi gudang Bulog tersebut.
Ia meragukan jika stok tersebut murni berasal dari produksi dalam negeri dalam waktu singkat.
“Benarkah itu hasil produksi dalam negeri semua? Atau jangan-jangan berasal dari impor tahun-tahun sebelumnya, yakni 2022, 2023, dan 2024?” cetusnya.
Ia menegaskan, klaim swasembada baru bisa dianggap obyektif jika secara faktual terbukti tidak ada lagi impor beras yang dilakukan oleh BUMN Bulog.
“Perlu diteliti lebih lanjut logika pencapaian swasembada yang sangat cepat ini. Apakah faktual tidak ada impor beras sama sekali?” pungkas Defiyan.
Pewarta : Irwan
Sumber : Humas MIO Indonesia DKI Jakarta
Reporter : Edo Lembang
