MUI Kecamatan Periuk Laksanakan SUBLING Ke~43 Di Masjid Al Muhajirin, Perumahan Periuk Jaya Permai

VN-24, Kota Tangerang – Guna memperkuat pengalaman spirit silaturahmi untuk mewujudkan masyarakat yang berakhlakul karimah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Periuk melaksanakan kegiatan rutin bulanan yaitu Subuh Keliling (SUBLING) ke~43 di Masjid Al Muhajirin, Perumahan Periuk Jaya Permai, Jl. Angsana Raya RW 05, Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Minggu (17/05/2026).

Hadir pada kegiatan ini, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Periuk KH. Abdul Aziz Yahya, KH. Moh Saifudin Zuhri, Ketua MUI Periuk KH. Misbahul Munir, S.Ag, M.M, Wakil Ketua 1 KH. Ahmad Nadhori, Wakil Ketua 2 KH. Drs. Agus Misna, Sekretaris KH. Muhammad Yasin, S.Pd.I, Bendahara H. Dadang Suhendar, S.E, M.M, Ketua Komisi Da’wah Ustadz Emi Abdul Rahman, S.Pd.

Ketua MWCNU Periuk Ustadz Icuk Sukrudin, Lurah Periuk Jaya Muhdi Komarudin, S.IP, Binamas Periuk Jaya Firman Hamdani, S.H. dan Ketua Forum RW Kelurahan Periuk Jaya H. Rd. Sugandi, S.H.

Bendahara Da’i Kamtibmas Kecamatan Periuk Hj. Yanni Sudjito, Ketua FORMAT Gebang Raya Ustadzah Koniatul Kodriyah, S.Pd, bersama Jama’ah Musholla Al Iman, Ketua Komisi dan Pengurus MUI Periuk, Srikandi MUI Periuk dan Ketua DKM/Mushola se-Kecamatan Periuk beserta Pengurus.

Kemudian, Ketua Dewan Penasehat Masjid Al Muhajirin KH. Tb. Salim Idrus, Ketua DKM Al Muhajirin H. Sutarjo, Bendahara Ustadz Irfan beserta Pengurus, Ketua RW 05 Kelurahan Periuk Jaya Rusdianto dan Para Ketua RT.

Sholat Subuh berjama’ah dengan Imam Ketua Dewan Penasehat Masjid Al Muhajirin KH. Tb Salim Idrus.

Bertugas sebagai pembawa acara Ustadz Ahmad Sumanto.

Acara diawali dengan Mahalul Qiyam.

Kemudian, Sambutan Dewan Kehormatan Masjid Al Muhajirin KH. Tb Salim Idrus, Sambutan Ketua MUI Periuk disampaikan Wakil Ketua 2 KH. Drs. Agus Misna, Sambutan Camat Periuk disampaikan oleh Lurah Periuk Jaya Muhdi Komarudin, S.IP.

Pembacaan ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh Ustadz Dedi Wahyudi, S.Pd.

Selanjutnya Ceramah/Tausyiah yang disampaikan oleh Sekum MUI Kecamatan Periuk KH. Muhammad Yasin, S.Pd.

Dalam tausyiah nya KH. Muhammad Yasin, S.Pd menyampaikan, dalam tasawuf, ibadah qurban bisa dipahami lewat 4 tingkatan :
1. Qurban Syariat = Aturan menyembelih hewan
2. Qurban Tarekat = Menyembelih sifat buruk diri
3. Hakikat = Menyembelih cinta selain Allah
4. Ma’rifat = Menyaksikan hanya Allah yang ada

1. Qurban Syariat
Ini sisi hukum fiqihnya, yang wajib diketahui semua muslim.
– Hukum : Sunnah muakkad bagi yang mampu. Wajib menurut Imam Abu Hanifah.
– Waktu : 10-13 Dzulhijjah setelah sholat Idul Adha.
– Hewan : Unta, sapi, kerbau, kambing, domba. Sehat, tidak cacat, cukup umur.
– Pembagian : 1/3 untuk keluarga, 1/3 untuk hadiah/sedekah, 1/3 untuk fakir miskin.
– Dalil : QS Al-Kautsar ayat 2, “Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah
– Intinya : tata cara lahiriah yang benar sesuai aturan.

2. Qurban Thorekat
Proses menyembelih sifat-sifat buruk atau sifat hewandi dalam diri sendiri.
1. Menyembelih Sifat Rakus / Tamak
2. Menyembelih Sifat Amarah
3. Menyembelih Sifat Ujub / Sombong
4. Menyembelih Sifat Dengki / Hasad
5. Menyembelih Cinta Dunia Berlebihan
6. Menyembelih Sifat-Sifat Anjing, Babi, Monyet, Laba-laba, Nyamuk, keledai

3. Qurban Hakikat
1. Menyembelih selain Allah: Mengosongkan hati dari selain Allah. Ego, jabatan, harta, pujian manusia disembelih dari hati.
2. Pengorbanan total: Siap mengorbankan apa yang paling dicintai demi Allah, seperti
Ibrahim AS dengan Ismail AS.
3. Yang Disembelih Hakikatnya Bukan Hewan
Ibrahim AS diperintah sembelih Ismail AS. Ismail = sesuatu yang paling dicintai.
Hakikatnya : sembelih apa yang paling kamu cintai selain Allah.
Buat kita, “Ismail” itu bisa jadi :
– Ego : Merasa paling benar
– Harta : Takut miskin kalau sedekah
– Jabatan : Takut hilang pangkat
– Pujian manusia : Hidup buat validasi orang
– Nafsu : Amarah, rakus, dengki
4. Mengosongkan Hati dari Selain Allah
Selama hati masih penuh berhala: cinta dunia, takut manusia, berharap ke makhluk, kamu belum berqurban hakikat.
Pisau hakikat itu La ilaha illallah. Nafikan semua tuhan-tuhan kecil di hati, baru Allah masuk.

Jadi ringkasnya:
Syariat : potong leher hewan
Hakikat: potong leher ego
Kalau syariatnya sah tapi hakikatnya kosong, qurban cuma jadi pesta sate tahunan.

4. Qurban Ma’rifat
Qurban adalah jalan untuk mengenal bahwa semua dari Allah, untuk Allah, dan akan kembali kepada Allah.

Qurban Ma’rifat itu level paling dalam. Ini bukan lagi soal hewan, bukan lagi soal sifat, tapi soal “menyaksikan Allah” di balik qurban.
Syariat = potong kambing,
Tarekat = potong nafsu,
Hakikat = potong cinta selain Allah,
Maka Ma’rifat = kamu udah nggak lihat kambing, nggak lihat nafsu, nggak lihat dirimu.
Yang ada cuma Allah.

A. Menyaksikan Af’al Allah
Di level ini kamu sadar: yang nyuruh qurban Allah, yang ngasih rezeki buat beli kambing Allah, yang nggerakin tanganmu nyembelih Allah, yang nerima qurban Allah.
La fa’ila illallah – nggak ada pelaku selain Allah.
Kamu cuma wayang. Dalangnya Allah. Jadi buat apa sombong udah qurban sapi?

B. Menyaksikan Asma & Sifat Allah
Tiap darah qurban menetes, kamu “lihat” asma Allah :
– Al-Wahhab : Dia yang ngasih kamu harta buat qurban
– Al-Karim : Dia yang nerima qurbanmu yang receh ini
– Al-Qahhar : Dia yang menundukkan hewan itu biar mau disembelih
– Ar-Rahim : Dia yang ganti Ismail dengan domba, karena sayang sama hamba-Nya

Jadi urutan lengkapnya :
Syariat = kulitnya qurban
Tarekat = dagingnya qurban
Hakikat = darahnya qurban
Ma’rifat = ruhnya qurban

Kegiatan ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Ketua Dewan Pertimbangan MUI Periuk KH. Abdul Aziz Yahya.

Selanjutnya Mushofahah, Ramah Tamah dan Poto Bersama.

Pewarta : (SuHaRToNo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *