VN-24, Bandung, Jawa Barat – Seorang perempuan di Bandung akhirnya memberanikan diri membuka suara setelah merasa menjadi korban dugaan kebohongan yang dilakukan oleh seorang oknum anggota kepolisian bernama Darul mutaqin. Sosok yang selama ini dikenal masyarakat sebagai pelindung dan pengayom justru diduga menyembunyikan fakta penting tentang dirinya demi mendekati korban.
Menurut keterangan korban, hubungan keduanya bermula dari komunikasi yang intens. Oknum polisi tersebut berulang kali meyakinkan bahwa dirinya masih bujang dan belum memiliki istri. Dengan keyakinan itu, korban pun mempercayai setiap ucapan yang disampaikan.
Bagi korban, kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Ia percaya karena sosok yang berbicara kepadanya adalah seorang aparat negara yang mengenakan seragam kehormatan. Seragam yang bagi masyarakat selama ini identik dengan tanggung jawab, kejujuran, dan perlindungan.
Namun kenyataan yang kemudian terungkap justru meninggalkan luka yang dalam. Korban mengetahui bahwa pria yang selama ini mengaku bujang ternyata telah memiliki istri.
Fakta tersebut membuat korban merasa tertipu dan mengalami tekanan psikologis yang tidak ringan.
Tidak hanya itu, ketika korban mencoba meminta kejelasan dan mempertanggungjawabkan kebenaran, situasi justru semakin rumit.
Korban mengaku berada dalam tekanan emosional, karena setiap kali persoalan ini hendak dibawa ke jalur pengaduan, terlapor diduga mengeluarkan ancaman emosional termasuk mengancam akan mengakhiri hidupnya sendiri.
Situasi tersebut membuat korban sempat berada dalam dilema dan tekanan batin yang berat. Namun setelah melalui pergulatan panjang, korban akhirnya memutuskan untuk tidak lagi diam.
Ia memilih bersuara bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga agar tidak ada lagi perempuan lain yang mengalami hal serupa. Dengan keberanian itu, korban telah menyampaikan pengaduan resmi atas dugaan pelanggaran etik yang dilakukan oleh oknum anggota kepolisian tersebut.
Kasus ini kemudian memunculkan perhatian publik, karena menyentuh persoalan integritas aparat penegak hukum. Bagi masyarakat, kejujuran adalah fondasi utama dari kepercayaan terhadap institusi negara.
Korban berharap proses pemeriksaan dapat berjalan secara objektif, transparan, dan profesional. Ia percaya bahwa institusi kepolisian memiliki komitmen kuat untuk menjaga marwahnya dengan menindak setiap pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya.
Publik kini menanti bagauimana proses ini akan ditangani. Sebab dalam perkara seperti ini, yang dipertaruhkan bukan hanya nasib seorang korban, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang selama ini berdiri sebagai simbol penegakan hukum dan keadilan di Indonesia.
Pewarta : Irwan
Sumber : WT
